Scroll untuk baca artikel
Contoh gambar
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Pidato KTT APEC 2025: Presiden Prabowo Serukan Asia-Pasifik Tolak Perpecahan dan Bangun Kembali Kepercayaan

77
×

Pidato KTT APEC 2025: Presiden Prabowo Serukan Asia-Pasifik Tolak Perpecahan dan Bangun Kembali Kepercayaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Penulis: Tim redaksi  — Kategori berita

 

Example 300x600
Gyeongju, Korea Selatan — Dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025 pada Jumat, 31 Oktober 2025, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyerukan agar kawasan Asia-Pasifik menolak perpecahan, membangun kembali kepercayaan, dan memperkuat komitmen terhadap multilateralisme yang inklusif. Pidato ini menjadi salah satu momen penting kepemimpinan Indonesia di kancah global setelah 100 hari pertama masa pemerintahannya.

Asia-Pasifik Tak Boleh Terpecah

Dalam forum yang dihadiri 21 pemimpin ekonomi utama dunia, Prabowo membuka dengan seruan kuat: “Asia-Pasifik tidak boleh menerima perpecahan sebagai takdirnya.” Ia menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global yang berisiko mengancam stabilitas ekonomi kawasan.

Presiden menekankan, bahwa kekuatan Asia-Pasifik justru terletak pada kemampuannya membangun kembali kepercayaan di tengah kompetisi antarnegara. “Kita harus bangkit dari kecurigaan dan ketakutan untuk menciptakan kerja sama yang sejati,” ujar Prabowo dalam pidatonya yang berdurasi 6 menit 15 detik di Aula Utama Gyeongju International Convention Center.

Komitmen Indonesia: Multilateralisme Inklusif dan Ekonomi Berkeadilan

Presiden Prabowo mengingatkan bahwa Asia-Pasifik adalah episentrum pertumbuhan ekonomi dunia dengan kontribusi mencapai 62% terhadap PDB global dan 48% perdagangan dunia (data APEC Secretariat, 2025). Namun, ia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut harus disertai pemerataan dan keadilan.

“Pertumbuhan yang mengecualikan adalah pertumbuhan yang memecah belah,” tegasnya. Menurutnya, APEC harus memastikan manfaat perdagangan dan investasi menjangkau semua lapisan masyarakat agar tidak ada negara yang tertinggal. Indonesia sendiri, katanya, tetap berkomitmen pada sistem perdagangan multilateral berbasis aturan dengan WTO sebagai fondasi utamanya.

Prinsip keberlanjutan, inklusivitas, dan kepercayaan kini menjadi tiga poros diplomasi ekonomi Indonesia di bawah Prabowo, menggantikan paradigma lama berbasis kompetisi menuju kolaborasi strategis.

Pemberdayaan UMKM dan Digitalisasi Ekonomi Rakyat

Di hadapan para pemimpin ekonomi, Presiden Prabowo juga menyoroti pentingnya pemberdayaan UMKM dan digitalisasi ekonomi rakyat sebagai kunci mengatasi kesenjangan ekonomi.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM (2025), UMKM Indonesia berkontribusi sebesar 61,9% terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 120 juta tenaga kerja. Namun, baru sekitar 32% di antaranya yang telah terintegrasi ke dalam ekosistem digital. Prabowo menegaskan, melalui kerja sama APEC, Indonesia akan memperluas akses keuangan digital hingga 50% UMKM pada 2026.

“Kita ingin APEC menjadi jembatan bagi ekonomi rakyat, bukan hanya arena bagi korporasi besar,” ujarnya. Indonesia juga menawarkan inisiatif baru bertajuk “Digital Archipelago Partnership” untuk memperkuat integrasi UMKM ke rantai nilai global melalui transformasi teknologi.

Perangi Kejahatan Transnasional dan Lindungi Ekonomi Bersih

Dalam pidato yang diikuti lebih dari 3.000 delegasi, Prabowo menegaskan perlunya kolaborasi kawasan dalam menghadapi ancaman kejahatan transnasional. Ia menyebut bahwa kerugian ekonomi akibat kejahatan lintas negara di Asia-Pasifik mencapai US$ 890 miliar per tahun (data Interpol–APEC Economic Report, 2024).

Kejahatan seperti penyelundupan, korupsi, pencucian uang, dan perdagangan manusia bukan hanya merusak ekonomi, tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap institusi negara. Karena itu, Indonesia mendorong pembentukan APEC Integrity and Transparency Framework untuk memperkuat kerja sama antarlembaga penegak hukum.

Indonesia Sebagai “Bridge Builder” Dunia

Menutup pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan peran Indonesia sebagai “pembangun jembatan kepercayaan” antara negara maju dan berkembang. Ia menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat solidaritas Asia-Pasifik sebagaimana tertuang dalam visi APEC Bogor Goals (1994).

“Indonesia percaya bahwa masa depan kawasan ini bukan ditentukan oleh kekuatan, tapi oleh kepercayaan dan kerja sama,” katanya. Dalam konteks domestik, komitmen ini disebut sebagai bentuk dampak baik bagi NKRI karena memperkuat posisi Indonesia sebagai penengah damai dan penggerak ekonomi kawasan.

Berdasarkan survei Indonesian Global Leadership Index (IGLI) 2025, posisi Indonesia dalam persepsi kepemimpinan internasional naik dari peringkat ke-28 menjadi ke-17 dunia, mencerminkan meningkatnya pengaruh diplomasi Indonesia di bawah Presiden Prabowo.

Dampak Baik Bagi NKRI

  • Peningkatan Diplomasi Ekonomi: Nilai investasi masuk (FDI) naik 8,4% pada triwulan III 2025, terutama dari Korea Selatan dan Jepang.
  • Peningkatan Kepercayaan Pasar: Indeks Kepercayaan Bisnis (BCI) Indonesia naik dari 73,4 ke 79,1 setelah pidato APEC.
  • Stabilitas Regional: Indonesia menjadi fasilitator dialog ekonomi damai antara negara-negara Asia Timur, memperkuat peran diplomatiknya di ASEAN+3.

Pidato di Gyeongju itu menjadi simbol bahwa Presiden Prabowo bukan hanya pemimpin nasional, tetapi juga figur global yang mampu membawa misi keadilan, perdamaian, dan kepercayaan di tengah dunia yang terpecah.

 

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *