Penulis: Tim redaksi — Kategori berita — Internasional
Di Istana Kremlin, Moskow, pada 10 Desember 2025, Presiden Prabowo bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan bilateral tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, mulai dari peningkatan perdagangan, penguatan kerja sama militer-teknis, hingga penjajakan serius pemanfaatan energi nuklir untuk kepentingan sipil di Indonesia.
Dari Pakistan ke Rusia: Diplomasi Tanpa Jeda
Keberangkatan Presiden Prabowo ke Rusia dilakukan hanya sehari setelah pertemuan produktif dengan Perdana Menteri Pakistan di Islamabad. Dalam kunjungan ke Pakistan, Indonesia dan Pakistan menyepakati tujuh nota kesepahaman strategis di bidang pendidikan, kesehatan, UMKM, perdagangan halal, dan pencegahan narkotika.
Langkah Presiden melanjutkan perjalanan ke Rusia tanpa jeda dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia tengah mengonsolidasikan poros kerja sama strategis dengan negara-negara mitra utama di kawasan Asia dan Eurasia.
Pertemuan di Kremlin: Konsolidasi Hubungan Indonesia–Rusia
A. Sambutan dan Apresiasi Presiden Putin
Presiden Vladimir Putin secara langsung menyambut Presiden Prabowo di Istana Kremlin. Dalam pernyataan pembuka, Putin menyampaikan belasungkawa atas musibah banjir yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Indonesia.
Putin juga mengapresiasi kehadiran Presiden Prabowo dalam Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg pada Juni 2025, yang menurutnya menjadi bukti keseriusan Indonesia dalam membangun kemitraan jangka panjang.
B. Tujuan Kunjungan: Konsultasi dan Penguatan Kepercayaan
Presiden Prabowo menyatakan bahwa kunjungannya ke Moskow bertujuan melakukan konsultasi strategis sekaligus menyampaikan terima kasih atas hubungan bilateral Indonesia–Rusia yang dinilai berada dalam kondisi sangat baik.
“Hubungan kita sangat kuat dan saling menguntungkan. Kami ingin meningkatkannya ke tingkat yang lebih tinggi,” ujar Prabowo dalam pertemuan tersebut.
Peningkatan Perdagangan dan Kerja Sama Ekonomi
A. Data Statistik Perdagangan Indonesia–Rusia
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI dan UN Comtrade, hubungan perdagangan Indonesia–Rusia menunjukkan tren positif:
- Nilai perdagangan bilateral 2024: USD 4,2 miliar
- Pertumbuhan perdagangan 9 bulan pertama 2025: 17 persen
- Ekspor utama Indonesia: CPO, karet, alas kaki, produk perikanan
- Impor utama dari Rusia: Pupuk, gandum, energi
Presiden Putin menyatakan kesiapan Rusia untuk mencari keseimbangan perdagangan, terutama di sektor pertanian dan energi.
B. Dialog Bisnis dan Industri
Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa sejumlah delegasi pemerintah dan pelaku usaha Rusia telah berkunjung ke Jakarta sepanjang 2025. Dialog tersebut telah ditindaklanjuti oleh BUMN dan sektor swasta Indonesia.
Energi Nuklir Sipil: Peluang Strategis Baru
Salah satu poin penting pertemuan adalah pembahasan potensi kerja sama energi nuklir untuk tujuan damai. Presiden Putin menyatakan kesiapan Rusia melalui Rosatom untuk membantu Indonesia apabila memutuskan mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Data Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menunjukkan Rusia mengoperasikan lebih dari 37 reaktor nuklir aktif dan menjadi salah satu negara dengan teknologi PLTN paling maju di dunia.
Bagi Indonesia, isu energi nuklir sipil relevan mengingat kebutuhan listrik nasional diproyeksikan mencapai 500 TWh pada 2045, sementara target net zero emission menuntut sumber energi rendah karbon.
Kerja Sama Militer-Teknis dan Pendidikan Pertahanan
A. Mitra Tradisional di Bidang Pertahanan
Rusia menyebut Indonesia sebagai mitra tradisional dan andal dalam kerja sama militer-teknis. Data Kementerian Pertahanan RI mencatat bahwa kerja sama pertahanan Indonesia–Rusia telah berlangsung lebih dari tiga dekade.
- Pengadaan alutsista sejak 1990-an
- Program pelatihan perwira TNI di akademi militer Rusia
- Kerja sama pemeliharaan dan modernisasi alat utama
B. Penguatan SDM dan Pelatihan
Presiden Putin menyatakan kesiapan Rusia untuk memperluas pelatihan teknis dan pendidikan militer bagi personel Indonesia. Hal ini sejalan dengan kebijakan Prabowo yang menekankan modernisasi pertahanan berbasis sumber daya manusia.
Diplomasi Multilateral: BRICS dan Eurasia
Dalam pertemuan tersebut, Rusia menyambut keanggotaan penuh Indonesia di BRICS. Selain itu, dibahas pula kemajuan negosiasi zona perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).
Berdasarkan data EAEU, potensi pasar kawasan ini mencakup lebih dari 180 juta penduduk dengan PDB gabungan sekitar USD 2 triliun.
Undangan Balasan dan Prospek Ke Depan
Presiden Prabowo secara resmi mengundang Presiden Vladimir Putin untuk berkunjung ke Indonesia pada 2026 atau 2027. Putin menyambut undangan tersebut secara positif.
Undangan ini menandai kesinambungan hubungan bilateral Indonesia–Rusia yang telah terjalin selama lebih dari 75 tahun.
Keputusan Presiden Prabowo Subianto langsung bertolak ke Rusia setelah menyelesaikan kunjungan di Pakistan mencerminkan intensitas diplomasi Indonesia di tengah dinamika global. Pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin menghasilkan capaian konkret di bidang ekonomi, energi, pertahanan, dan kerja sama multilateral.
Dengan pertumbuhan perdagangan dua digit, penjajakan energi nuklir sipil, serta penguatan kerja sama pertahanan, kunjungan ini dinilai menjadi salah satu tonggak penting dalam hubungan Indonesia–Rusia di era kepemimpinan Presiden Prabowo.



















