KDM Tegaskan: Bukan 5-10 Tahun, Pembangunan Jabar untuk Anak Cucu
BANDUNG – Suasana Gedung DPRD Jawa Barat mendadak riuh penuh tepuk tangan ketika Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (KDM), mengucapkan kalimat lantang. “Kita bangun Jawa Barat bukan untuk 5 atau 10 tahun saja, tapi untuk anak cucu kita,” katanya. Ucapan itu langsung jadi sorotan.
Ucapan KDM jelas beda. Di tengah situasi politik yang sering dihiasi janji pendek, KDM memilih berbicara soal warisan panjang. Baginya, pembangunan Jawa Barat tidak boleh instan. Bukan proyek musiman, apalagi hanya sekadar angka pencapaian. Pembangunan harus dirasakan sampai generasi berikutnya.
Pembangunan Jangka Panjang
Menurut KDM, Jawa Barat tidak bisa hanya dikelola dengan orientasi periode jabatan. “Kalau kita mikirnya lima tahun, kita cuma mengejar pencitraan. Kalau mikir sepuluh tahun, paling mentok kita bisa bikin infrastruktur. Tapi kalau kita mikir anak cucu, kita bakal serius bangun sistem, lingkungan, dan budaya yang lestari,” ujarnya.
Ia menegaskan, pembangunan jangka panjang itu soal keberlanjutan. Mulai dari tata kota, pengelolaan desa, pendidikan, kesehatan, sampai lingkungan. Semua harus dipikirkan matang. Bukan asal jadi, tapi bisa diwariskan.
Lembur Diurus, Kota Ditata
KDM kembali menggaungkan slogan “Lembur Diurus, Kota Ditata.” Filosofi ini jadi roh pembangunan. Desa jangan ditinggalkan, kota jangan dibiarkan kacau. “Kalau desa terurus, orang tidak akan berbondong-bondong pindah ke kota. Kalau kota tertata, warga nyaman tinggal dan bekerja,” jelasnya.
Konsep ini, kata KDM, jadi jawaban atas ketimpangan pembangunan. Banyak daerah di Jabar yang masih tertinggal karena terlalu fokus pada perkotaan. Padahal, kekuatan Jawa Barat ada di desa, ada di lembur yang menyimpan budaya, pangan, dan tradisi.
Gotong Royong Jadi Kunci
Di hadapan pejabat, tokoh masyarakat, dan undangan, KDM menekankan bahwa pembangunan tidak bisa dikerjakan sendirian. Pemerintah hanya fasilitator. “Kalau semua pihak bergerak, dari masyarakat sampai pemimpin lokal, pembangunan bakal jalan. Gotong royong ini yang akan jadi warisan terbaik buat anak cucu,” ucapnya.
Gotong royong bukan hanya jargon. KDM mencontohkan pembangunan infrastruktur jalan desa. Pemerintah memberi material, masyarakat ikut bekerja. Hasilnya, proyek selesai lebih cepat, biayanya lebih hemat, dan rasa memiliki lebih kuat.
Momentum Hari Jadi Jawa Barat ke-80
Pidato KDM disampaikan saat peringatan Hari Jadi Jawa Barat ke-80. Bagi KDM, usia 80 tahun adalah momen refleksi. “Kita harus belajar dari masa lalu, menata masa kini, dan merancang masa depan. Jangan sampai kita sibuk membangun gedung megah, tapi lupa anak cucu kita nanti yang harus menanggung beban,” katanya.
Ia menilai, pembangunan yang terlalu mengejar prestasi jangka pendek justru berbahaya. Banyak daerah terjebak utang, lingkungan rusak, dan budaya lokal hilang karena semua dipacu hanya demi kepentingan periode singkat.
Warisan untuk Anak Cucu
KDM menekankan lagi, pembangunan harus jadi warisan. Bukan sekadar hasil fisik, tapi juga sistem yang hidup. Pendidikan harus melahirkan generasi cerdas dan berkarakter. Kesehatan harus merata sampai pelosok. Lingkungan harus dijaga agar tidak hancur karena eksploitasi.
“Kalau kita kerja cuma buat hari ini, anak cucu kita bakal susah. Kita bisa tinggalin jalan tol, gedung tinggi, tapi kalau air susah, tanah rusak, dan budaya hilang, itu bukan pembangunan. Itu beban. Saya nggak mau itu terjadi di Jawa Barat,” tegas KDM.
Ajakan Kolaborasi
Dalam kesempatan itu, KDM juga mengajak seluruh elemen masyarakat ikut serta. Mulai dari akademisi, pengusaha, aktivis, hingga anak muda. “Semua harus punya peran. Anak muda jangan apatis. Ini tanah kalian juga. Jangan tunggu jadi pejabat baru peduli,” ujarnya.
KDM mencontohkan gerakan kecil yang bisa berdampak besar. Dari komunitas lingkungan yang menanam pohon, gerakan literasi di desa, sampai usaha kecil yang mempekerjakan warga sekitar. Semua, kata dia, bagian dari pembangunan jangka panjang.
Filosofi Sunda Jadi Landasan
Sebagai putra daerah, KDM tak lupa mengaitkan filosofi Sunda dalam visi pembangunan. Ia menyebut pepatah, “Silih asah, silih asih, silih asuh.” Menurutnya, ini bukan sekadar nasihat, tapi panduan pembangunan. Warga harus saling mendidik, saling menyayangi, dan saling melindungi.
“Kalau nilai budaya kita hilang, pembangunan kita rapuh. Anak cucu kita harus tetap bisa kenal budaya, kenal akar mereka. Jangan sampai hanya mewarisi beton dan aspal, tapi kehilangan jati diri,” ucapnya.
Bukan Sekadar Janji
Gaya bicara KDM yang tegas dan lugas bikin banyak warga merasa optimis. Beberapa yang hadir mengaku, jarang ada pemimpin yang bicara pembangunan dalam perspektif generasi mendatang.
“Biasanya kan pejabat ngomong lima tahun, sepuluh tahun. Baru kali ini saya dengar gubernur ngomong soal anak cucu. Itu bikin beda,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
KDM memang dikenal vokal soal isu rakyat kecil. Ia sering turun langsung ke desa, melihat kondisi warga, dan mendengar keluhan tanpa protokoler ribet. Gaya blusukan itu yang membuat pesannya soal pembangunan jangka panjang terasa lebih nyata.
Penutup
Pesan KDM sederhana tapi dalam: membangun Jawa Barat bukan urusan sesaat. Bukan proyek singkat. Tapi warisan panjang yang akan dirasakan anak cucu. “Kalau kita tinggalkan warisan baik, generasi mendatang akan bersyukur. Tapi kalau kita tinggalkan masalah, mereka yang bakal menderita. Saya pilih wariskan yang terbaik,” katanya.
Dengan semangat itu, Jawa Barat di bawah KDM ingin melangkah lebih jauh. Bukan sekadar mengejar target angka, tapi membangun sistem yang kuat, budaya yang terjaga, dan lingkungan yang lestari. Sebuah pembangunan berkelanjutan yang benar-benar dirancang untuk masa depan.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi tegaskan pembangunan berkelanjutan, bukan hanya 5-10 tahun, tapi untuk anak cucu sebagai warisan masa depan.
KDM, Jawa Barat, Pembangunan Berkelanjutan, Hari Jadi Jabar, Visi Anak Cucu, Dedi Mulyadi
1. Pembangunan Jawa Barat berorientasi jangka panjang
2. Warisan pembangunan untuk anak cucu
pembangunan Jawa Barat berkelanjutan
warisan pembangunan untuk anak cucu



















