Di bawah rintik hujan Halim, Presiden Prabowo melepas keberangkatan terakhir tiga prajurit terbaik yang gugur demi mandat dunia.
JAKARTA, – Langit di atas Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma tampak muram, seolah ikut merunduk saat peti jenazah berbalut Sang Saka Merah Putih diturunkan perlahan dari perut pesawat Hercules. Tiga prajurit Kontingen Garuda UNIFIL yang bertugas di Lebanon Selatan—Mayor Inf. Anm. Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anm. Muhammad Nur Ichwan, Kopda Anm. Farizal Rhomadon. Pulang dalam keheningan yang agung. Di sana, berdiri tegak Presiden Prabowo Subianto dengan raut wajah yang keras namun menyiratkan duka mendalam. Ia hadir bukan sekadar sebagai Panglima Tertinggi, melainkan sebagai seorang patriot yang melepas rekan seperjuangannya. Mereka adalah anak-anak muda Indonesia yang memilih meninggalkan kehangatan keluarga demi menjaga garis perbatasan yang membara di Timur Tengah. Gugur dalam menjalankan mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mereka adalah representasi nyata dari janji konstitusi Indonesia: ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Misi di Lebanon Selatan belakangan ini memang kian mencekam. Eskalasi konflik yang tak menentu memaksa para prajurit berada di garis depan risiko. Namun, seperti yang ditegaskan Presiden Prabowo dalam pidato singkatnya, Indonesia tidak akan bergeming. Kematian tiga prajurit ini bukanlah alasan untuk mundur, melainkan tonggak penguat bahwa Indonesia adalah bangsa yang tangguh dan setia pada misi kemanusiaan dunia.
Negara memberikan penghargaan setinggi-tingginya berupa Kenaikan Pangkat Luar Biasa (Anumerta). Selain itu, Presiden memastikan bahwa keluarga yang ditinggalkan akan mendapatkan jaminan penuh, termasuk pendidikan bagi putra-putri mereka hingga perguruan tinggi. Kini, ketiga Kusuma Bangsa itu telah beristirahat di bumi pertiwi yang mereka cintai. Kepergian mereka menyisakan duka bagi keluarga, namun menorehkan kebanggaan yang abadi bagi seluruh rakyat Indonesia. Mereka adalah bukti bahwa nasionalisme kita tidak pernah luntur, bahkan ketika diuji di medan laga internasional yang paling keras sekalipun. Selamat jalan, para penjaga damai.



















