Di tengah suhu dingin Moskow, Presiden Prabowo Subianto membawa kehangatan mandat konstitusi: sebuah navigasi cerdas di antara kepentingan nasional dan stabilitas global.
Di meja perundingan, Prabowo berbicara tentang pupuk bagi petani di Jawa, gandum untuk konsumsi rakyat, sekaligus tentang pentingnya mengakhiri desing peluru di Eropa Timur. Internasionalisme yang diusung bukan berarti melupakan rumah sendiri, melainkan kesadaran bahwa ketika dunia membara, Indonesia tidak akan pernah benar-benar aman. Nasionalisme kita hari ini adalah nasionalisme yang peduli pada nasib kemanusiaan di belahan bumi lain.
Langkah ini menggugah kembali memori kolektif kita pada masa-masa kejayaan diplomasi Indonesia di panggung Non-Blok. Prabowo sedang menegaskan kembali posisi Jakarta sebagai ‘jembatan’ bagi pihak-pihak yang bertikai. Di Rusia, ia membawa pesan bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan ekonomi bagi negara-negara berkembang.
Rakyat di tanah air patut tegak berdiri. Kunjungan ini membuktikan bahwa Indonesia tidak bisa didikte oleh kutub mana pun. Kita bergerak karena amanah konstitusi, kita bertindak karena kepentingan nasional, dan kita berbicara karena cinta pada kemanusiaan. Dari Moskow, dunia kembali diingatkan: Indonesia adalah kekuatan penyeimbang yang tidak bisa diabaikan.



















