Scroll untuk baca artikel
Contoh gambar
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

DPR Targetkan Revisi UU Hak Cipta Rampung dalam Dua Bulan, Dasco Tekankan Transparansi

101
×

DPR Targetkan Revisi UU Hak Cipta Rampung dalam Dua Bulan, Dasco Tekankan Transparansi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Example 300x600
Kebijakan • Hukum • Ekonomi Kreatif

DPR Targetkan Revisi UU Hak Cipta Rampung dalam Dua Bulan, Dasco Tekankan Transparansi

Jakarta — Sabtu, 23 Agustus 2025

Rapat DPR RI membahas Revisi UU Hak Cipta
Rapat lintas pemangku kepentingan membahas Revisi UU Hak Cipta: fokus pada transparansi, akuntabilitas, dan keadilan royalti.

Target Dua Bulan: Ambisi, Tekad Politik, dan Konsekuensi Regulasi

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyatakan Revisi UU Hak Cipta akan dikebut dan ditargetkan rampung dalam waktu dua bulan. Target ini lahir dari tekanan realitas: ekosistem musik dan kreator konten digital membutuhkan kepastian hukum terkait royalti musik, tata kelola lisensi, dan kepatuhan pengguna. Di tengah sorotan publik, DPR memosisikan revisi sebagai koreksi struktural yang menggabungkan dimensi hukum, ekonomi, dan teknologi.

Langkah percepatan ini didukung pembentukan tim perumus bersama pemerintah, Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), dan perwakilan musisi. Intinya: memperbaiki arsitektur pengumpulan dan distribusi royalti agar fair, transparent, accountable. Dalam bahasa regulasi, due process harus sejalan dengan user experience bagi pencipta lagu dan pengguna komersial.

Sufmi Dasco Ahmad: “Revisi Ini Soal Keadilan dan Kepercayaan Publik”

“Kita ingin revisi UU Hak Cipta ini menjawab persoalan yang sudah menahun. Royalti harus dikelola dengan transparan, adil, dan akuntabel. DPR berkomitmen agar pembahasan tidak berlarut-larut, karena ini menyangkut hak hidup seniman dan ekosistem kreatif.” — Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI.

Menurut Sufmi Dasco Ahmad, Revisi UU Hak Cipta bukan sekadar modernisasi pasal dan penyesuaian definisi—melainkan upaya memulihkan kepercayaan ekosistem. Kunci dari pernyataannya adalah trust: musisi memerlukan jaminan bahwa setiap putaran lagu, setiap tayang, dan setiap lisensi menghasilkan nilai yang tercatat rapi dan dapat diaudit. Sebaliknya, pelaku usaha—dari kafe, hotel, hingga platform digital—membutuhkan prosedur yang jelas, sederhana, dan terjangkau.

Dasco menegaskan target dua bulan realistis karena peta masalah telah terpapar: tumpang tindih otoritas pengelola, keterbatasan data penggunaan, hingga mekanisme pelaporan yang belum seragam. “Transparansi menjadi kunci. Kita tidak ingin ada kecurigaan antara musisi, LMK, maupun pengguna karya. Semua harus terang benderang,” ujarnya menandaskan.

Polemik Royalti Musik: Antara Ketidakpastian dan Beban Biaya

Selama bertahun-tahun, polemik royalti musik berputar pada dua keluhan utama. Pertama, para pencipta dan pemegang hak kerap tidak menerima distribusi yang mencerminkan pemakaian riil karyanya. Kedua, para pengguna mengeluhkan penarikan yang tumpang tindih, ketidakpastian tarif, dan ketidakjelasan kanal pembayaran. Revisi UU diharapkan merapikan rantai nilai: dari pelaporan penggunaan, kalkulasi, hingga penyaluran ke akun kreator.

Dalam ekonomi digital, satu karya bisa dimainkan di radio, ditayangkan di kafe, disiarkan streaming, dan diunggah sebagai latar video pendek. Tanpa single source of truth, data terpecah. Di sinilah peran LMKN masuk: sebagai pusat agregasi data pemakaian dan node akuntansi yang dapat diaudit secara independen.

Butir-Butir Revisi: Peran LMKN, Audit, dan Digitalisasi Data

Penguatan Peran LMKN

Revisi mengarah pada penguatan mandat LMKN agar pendataan penggunaan karya dan pendistribusian royalti musik berlangsung dari satu gerbang. Tujuannya menghindari duplikasi penarikan dan memberi titik kontak tunggal bagi pengguna. Bagi kreator, sistem terpusat menjanjikan dashboard yang menautkan pemakaian dengan pendapatan.

Audit Independen dan Pelaporan Berkala

Kepercayaan publik ditopang audit berkala oleh pihak independen. Laporan distribusi royalti—yang memuat metrik pemutaran, kategori pengguna, dan formula pembagian—akan dipublikasikan secara terjadwal. Langkah ini mengurangi asimetri informasi antara lembaga pengelola, kreator, dan pengguna.

Digitalisasi End-to-End

Revisi menaruh perhatian pada interoperabilitas data: fingerprinting audio, pengenal metadata, dan integrasi API untuk pelaporan otomatis dari platform. Dengan begitu, data pemakaian menjadi machine-readable, memudahkan rekonsiliasi dan menaikkan presisi distribusi. Digitalisasi juga mempersingkat waktu dari pemakaian karya ke pengkreditan royalti.

Dampak bagi Ekonomi Kreatif: Kepastian, Investasi, dan Inovasi

Ekosistem kreatif bergantung pada kepastian pendapatan. Ketika Revisi UU Hak Cipta memperjelas jalur royalti, risiko usaha menurun. Label, publisher, dan startup musik lebih percaya diri berinvestasi pada talenta baru. Pada saat yang sama, transparansi mengundang disiplin: karya yang dipakai harus dibayar, penggunaan harus dilaporkan, dan hak pengguna atas tarif yang rasional harus dihormati.

Platform digital—dari layanan streaming, penyiaran, hingga media sosial—memerlukan kepastian lisensi lintas format. Revisi yang cermat membuka ruang model bisnis baru, misalnya lisensi mikro untuk UMKM, bundling untuk pelaku pariwisata, hingga skema blanket license yang jelas untuk penyelenggara acara.

Rangkuman Fokus Revisi

Bidang Masalah Utama Solusi dalam Revisi Dampak yang Diharapkan
Pendataan Data pemakaian tersebar dan tidak seragam Agregasi terpusat via LMKN, standar metadata Distribusi royalti lebih presisi dan tepat waktu
Penarikan Duplikasi tagihan & kanal pembayaran Gerbang pembayaran tunggal & integrasi API Proses sederhana bagi pengguna, biaya kepatuhan turun
Distribusi Kurang transparan & sulit diaudit Audit independen, laporan publik berkala Kepercayaan kreator dan pelaku usaha meningkat
Penegakan Kepatuhan rendah di sektor ritel & event Skema lisensi jelas, sanksi proporsional Kepatuhan naik tanpa mematikan usaha
Inklusi UMKM kesulitan akses lisensi Tarif mikro & paket sektor pariwisata Ekosistem formal makin luas

Konfirmasi Komitmen: Garis Waktu dan Partisipasi Publik

“Dengan political will yang kuat, peta masalah yang jelas, dan partisipasi publik, target dua bulan bisa kita kejar. Yang penting, hasilnya adil untuk kreator dan dapat dijalankan oleh pengguna.” — Sufmi Dasco Ahmad.

Garis waktu dua bulan ditopang rapat-rapat intensif dan pembacaan draf secara paralel. Partisipasi pemangku kepentingan—asosiasi musisi, LMK, pelaku F&B, perhotelan, penyiaran, hingga platform digital—diarahkan untuk memperkaya naskah sekaligus menguji kelayakan implementasi di lapangan.

Risiko Implementasi: Antara Ambisi dan Kapasitas

Transisi Sistem

Peralihan dari sistem lama menuju sistem terintegrasi berpotensi menimbulkan kebingungan. Karena itu, masa transisi wajib diatur: tenggat pelaporan, migrasi data, serta helpdesk nasional untuk pengguna. Tanpa panduan yang jelas, ambisi revisi bisa tersendat pada tahap pelaksanaan.

Kualitas Data

Algoritme hanya sebaik data yang dikonsumsi. Standar metadata (judul, komposer, label, ISRC/ISWC) harus dipatuhi. Bagi pelaku usaha kecil, formulir sederhana dan alat pelaporan yang mudah dipakai menjadi syarat kesuksesan.

Penegakan Proporsional

Penegakan hukum perlu mengedepankan edukasi, bukan sekadar sanksi. Kampanye kepatuhan, simulasi perhitungan, dan fasilitas konsultasi akan meminimalkan resistensi sekaligus mempercepat adopsi.

Rujukan Terkait (Internal Linking)

FAQ: Revisi UU Hak Cipta, Royalti Musik, dan Peran DPR

Mengapa Revisi UU Hak Cipta dikebut dua bulan?

Untuk memberikan kepastian hukum bagi kreator dan pengguna, merapikan pendataan, serta menutup celah yang menimbulkan polemik royalti musik.

Bagaimana peran Sufmi Dasco Ahmad?

Sebagai Wakil Ketua DPR RI, Dasco menekankan transparansi, akuntabilitas, dan target waktu yang realistis dengan partisipasi multi-pihak.

Apa posisi LMKN dalam revisi?

LMKN diarahakan menjadi pusat agregasi data pemakaian dan pendistribusian royalti, dengan audit independen serta pelaporan berkala.

Apakah pengguna karya akan terdampak?

Ya. Diharapkan proses lisensi menjadi lebih jelas dan sederhana, dengan tarif yang proporsional dan kanal pembayaran terintegrasi.

Bagaimana dampaknya bagi industri kreatif?

Kepastian pendapatan kreator dan kepastian lisensi pengguna mendorong investasi, inovasi, dan pelebaran pasar ekonomi kreatif.

 

 

 

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *